KEHIDUPAN JEMAAT TUHAN YANG SALING MENGUATKAN

15 Agustus 2017 oleh GI. Yerti Sariana

church event


Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan diri sendiri - Roma 15: 1

Pada Roma 15 khususnya pada ayat 1 - 3 hal utama yang di tekankan oleh Rasul Paulus adalah bagaimana jemaat hidup saling menguatkan. “Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri” (ayat 1). Dari bagian ini ada dua prinsip penting yang di tekankan oleh Rasul Paulus, berkaitan dengan hidup sebagai jemaat yang saling menguatkan.

Pertama, sebagai jemaat wajib menanggung kelemahan jemaat yang lemah. Kata “menanggung” dalam bahasa Yunani adalah bastazō bisa berarti mengangkat (to lift). Berdasarkan konteksnya “kelemahan” di terjemahkan: mereka atau jemaat yang lemah hati nuraninya atau kerohaniannya. Kita yang kuat rohaninya dituntut oleh Paulus untuk terus-menerus ikut menanggung sesama jemaat yang lemah hati nuraninya atau kerohaniannya. Bersama-sama memikul keberatan hati nurani sesama jemaat yang lemah membuktikan bahwa kita memperhatikan mereka dan kita sudah menjadi berkat bagi mereka. Bagaimana caranya ikut menanggung keberatan hati nurani jemaat yang lemah ini? Di dalam 1 Korintus 8:13, Paulus memberikan contoh konkritnya yaitu ia tidak akan makan daging selama-lamanya jika makanan tersebut menjadi batu sandungan bagi sesama jemaat. Ketika kita tidak mau memahami kelemahan/keberatan jemaat lain maka sebenarnaya kita adalah jemaat yang belum mengerti ajaran Firman Tuhan atau kebenaran Tuhan yang sesungguhnya. Kedua, tidak mencari kesenangan diri sendiri. Atau dalam terjemahan Yunaninya adalah jangan menyenangkan diri kita sendiri. Selain kita menanggung kerohanian jemaat yang lemah, kita diperintahkan Paulus untuk aktif terus-menerus untuk tidak hanya menyenangkan diri kita sendiri. Mengapa? Karena bagi Paulus, orang yang terus-menerus menyenangkan dirinya sendiri adalah orang yang egois dan tidak memiliki kasih. Bagaimana dengan kita? Apakah kita masih masa bodoh dengan hati nurani jemaat yang lemah atau kerohanian jemaat yang lemah? Biarlah poin ini menyadarkan kita untuk tidak egois. Orang yang egois tidak akan bisa menjadi berkat bagi sesama.


Kiranya, kami terus menjadi jemaat Tuhan dalam karakter sikap hidup yang saling menguatkan! Amin