MELAYANI TUHAN DALAM KEKUDUSAN HIDUP

13 April 2017 oleh Pdt. Putut Riyadi

church event

Baca Sekarang : ROMA 13 : 8 - 14


Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya. – Roma 13 : 14

Sebagai seorang yang melayani Tuhan, kita harus memiliki kasih dan kekudusan dalam hidup. Di dalam Roma 13: 8 -14, kita menemukan sebuah dorongan melayani seperti seorang yang berhutang. Hutang adalah kewajiban yang harus selalu dilunasi. Namun ada hutang yang akan terus ada, yaitu hutang mengasihi. Ayat 8 dari terjemahan BIS/NIV mengatakan demikian, “Janganlah berutang apa pun kepada siapa juga, kecuali berutang kasih terhadap satu sama lain.” Kata berhutang di sini memiliki arti tanggungjawab yang harus kita selesaikan. Hutang hanya dapat selesai jika sudah dilunasi. Tetapi dalam ayat ini Paulus mengatakan tetaplah dalam kondisi berhutang kasih terhadap sesamamu. Artinya terus lakukan kasih sebagai tanggungjawab yang harus dilakukan kepada sesamamu dan jangan pernah merasa lunas sehingga berhenti untuk mengasihi. Jadi kata ini bukan dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa kita berhutang budi dengan seseorang dan kita membalasnya, tetapi lebih pada jangan pernah berhenti mengasihi.

Bagaimanakah kasih itu dinyatakan? Paulus menyatakan dengan contoh-contoh yang konkret seperti jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini milik sesama. Apakah ini sudah semua? Jawabnya adalah tidak. Ini hanya mewakili saja, tetapi intinya adalah kita menyatakan kasih terhadap sesama kita dengan tidak memberikan dampak yang menyakiti, merusak, atau membunuh mereka.

Selanjutnya Paulus mengungkapkan perubahan hidup yang harus ada dalam Pelayan Tuhan dengan sebuah kalimat “menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata perang.” Bagian ini kemudian ditekankan lagi oleh Paulus dengan kalimat, “Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” Ini merupakan suatu gambaran yang sering dipakai Paulus untuk menerangkan tentang kehidupan orang percaya yang tidak lagi tinggal di dalam kedagingan tetapi hidup sesuai dengan kebenaran Allah. Ini berarti Paulus menganggap sangat penting bahwa kehidupan orang percaya harus mengalami perubahan. Perubahan hidup ini bukan sebuah syarat untuk mendapatkan hidup kekal tetapi berbicara tentang pengudusan (sanctification) yang terjadi setelah pembenaran (justification).


Tuhan Yesus, kami rindu sebagai orang yang percaya dapat memiliki totalitas dalam cara hidup yang baru sebagai seorang pelayan Kristus. Sadarkan kami ya Tuhan bahwa sudah saatnya kami "bangun dari tidur", meninggalkan hidup lama, menanggalkan atribut hidup lama yang dikontraskan dengan mengenakan karakter Kristus. Kami ingin memiliki hidup dalam kekudusan untuk melayani Kristus. Amin