SATU HATI DAN SATU SUARA MEMULIAKAN ALLAH

15 April 2017 oleh Pdt. Putut Riyadi

church event

Baca Sekarang : ROMA 15 : 1 - 13


“Semoga Allah,… mengaruniakan kerukunan kepada kamu, ..., sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus”. – Roma 15 : 5 - 6

Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma ini ditulis dengan tujuan supaya jemaat hidup rukun dan dengan demikian nama Tuhan dipermuliakan “supaya mereka memuliakan Allah karena rahmatNya” (ay 9), “biarlah segala suku bangsa memuji Dia” (ay 11). Selayaknyalah dunia memuliakan Tuhan dan mengandalkan Tuhan! Apa yang perlu kita lakukan?

Pertama, Marilah kita saling menolong. “Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri”(ay 1). Yang kuat bantu yang lemah dengan tujuan “untuk membangunnya” (ay 2), jadi bukan untuk kesenangan diri sendiri tetapi untuk kesenangan sesama yaitu orang lain atau tepatnya mencari kesenangan bersama.; Kedua, Marilah kita menyatukan hati. Satu hati dan satu suara (ay. 5-6) Jelas ini tidak mudah. Dalam Roma 15, Paulus mendorong terjadinya kesatuan di antara para pengikut Kristus—“sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus” (ay.6). Dengan mengutip beberapa bagian Perjanjian Lama, Paulus berbicara tentang bagaimana bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa non-Yahudi bersama-sama memuji Tuhan (ay.9-12). Kesatuan yang tadinya dianggap mustahil terjadi telah menjadi kenyataan ketika orang-orang yang sebelumnya jauh terpisah mulai bersama bersyukur kepada Allah atas kasih karunia-Nya yang nyata dalam Kristus. Sama seperti mereka, kita semua juga dipenuhi oleh sukacita, damai sejahtera, dan pengharapan “oleh kekuatan Roh Kudus” (ay.13).; 3). Marilah kita menerima dan melayani. “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. Yang aku maksudkan ialah, bahwa oleh karena kebenaran Allah Kristus telah menjadi pelayan orang-orang bersunat….” (ay 7-8). Menerima seperti Kristus telah menerima kita. Siapakah kita ini? Bukankah kita adalah sama dengan yang lain? Amat disayangkan banyak orang menganggap dirinya lebih daripada orang lain sehingga memandang orang lain rendah dan tidak mudah mau menerimanya. Penerimaan adalah kebutuhan bahkan sejak janin di dalam kandungan membutuhkan penerimaan. Hasil riset janin yang tertolak cendrung melakukan tindakan yang tidak patut di dalam kehidupan. Terimalah apa adanya dan layanilah sesamamu.


Bapa Surgawi, kami sadar betapa pentingnya kami semua memiliki kesatuan hati dan suara untuk bersama memuliakan Tuhan. Kami ingin terus bertumbuh dalam Pelayanan kami. Amin