KETAATAN YANG BERBUAHKAN SUKACITA

18 April 2017 oleh Pdt. Putut Riyadi

church event

Baca Sekarang : ROMA 16 : 19-20


Kabar tentang ketaatanmu telah terdengar oleh semua orang.Sebab itu aku bersukacita tentang kamu. Tetapi aku ingin supaya kamu bijaksana terhadap apa yang baik, dan bersih terhadap apa yang jahat. - Roma 16:19

Jemaat Roma dipuji Paulus karena kesetiaannya telah didengar banyak orang. Kata “kesetiaan” bisa berarti ketaatan atau ketundukan atau kepatuhan. Kata “terdengar” bisa berarti tersebar luas. Berarti, ketaatan jemaat Roma tersebar luas ke semua orang (bdk. Rm. 1:8). Sebagai reaksinya, Paulus bersukacita karena ketaatan jemaat Roma tersebut. Pernyataan Paulus yang bersukacita akan ketaatan jemaat Roma dimaksudkan agar jemaat Roma terus mendengar ajaran yang benar dan menjauhi para pengajar yang salah. Paulus ingin agar jemaat Roma memiliki “kekuatan membedakan”. Hal ini ditandai dengan dua sikap yang Paulus kemukakan di ayat 19b ini: Pertama, bijaksana terhadap apa yang baik. Kata “baik” bisa berarti baik atau berguna. Paulus hendak mengajar jemaat Roma untuk bijaksana terhadap apa yang sungguh-sungguh/berguna/baik. Bijaksana tanpa dikaitkan dengan kebaikan/kesungguhan bisa berakibat fatal. Berapa banyak dari kita yang menganggap diri bijaksana, namun sayangnya kebijaksaan itu tidak dibangun di atas dasar kebaikan /kesungguhan, Selain itu bijaksana berarti juga melakukan yang baik. Kedua, bersih terhadap apa yang jahat. Kata “bersih” di sini memiliki beragam terjemahan. Ada yang memberi penafsiran “tidak bernoda”. Berarti, selain bijaksana terhadap apa yang baik, Paulus menuntut jemaat Roma untuk memiliki kerohanian yang bebas dari sesuatu yang jahat. Dengan kata lain, selain bijaksana terhadap apa yang baik, kita pun dituntut untuk memiliki kemurnian hati yang tidak dikontaminasi oleh sesuatu yang jahat. Seorang yang telah membangun bijaksananya di atas dasar kebaikan dan melakukan kebaikan itu dengan sendirinya (dengan bantuan Roh Kudus, tentunya) mengakibatkan orang itu memiliki motivasi hati yang murni, cara yang murni, dan tentunya tujuan yang murni, bukan untuk diri, namun untuk Tuhan. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menguji hati kita ketika melakukan segala sesuatu? Apakah kita melakukannya dengan motivasi, cara, dan tujuan yang beres di hadapan-Nya?

Lalu, Paulus bukan hanya memberi pujian dan nasihat, ia juga memberi kekuatan kepada jemaat Roma untuk menjalankan nasihat Paulus itu. Sebagai kekuatan dan penghiburan, di ayat 20, ia menyatakan, “Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu. Kasih karunia Yesus, Tuhan kita, menyertai kamu!” Kekuatan dan penghiburan dari Paulus kepada jemaat Roma untuk menjalankan nasihat tersebut karena Allah akan menghancurkan Iblis di bawah kaki umat-Nya. Kata “menghancurkan” bisa berarti menghancurkan/mematahkan sampai berkeping-keping (to break in pieces). Dengan kata lain, kemenangan Allah menjadi kemenangan kita asalkan kita tetap berpaut kepada-Nya.


Tuhan Yesus sebagai orang yang telah mengalami kemenangan yang Tuhan anugerahkan, ajar kami hidup di dalam kesatuan dan kebenaran dengan anggota tubuh Kristus lainnya Kami rindu mengalami terus-menerus kemenangan Allah itu di dalam hidup kami. Amin