BELAJAR MELAYANI DARI KELUARGA AKWILA PRISKILA

22 April 2017 oleh Pdt. Putut Riyadi

church event

Baca Sekarang : Kisah Para Rasul 18 : 1-4; 1 Korintus 16:19


Di Korintus ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus. Ia baru datang dari Italia dengan Priskila, isterinya, …” – Kisah Rasul 18 : 2

Nama Priskila dan Akwila ini tidak terlalu dikenal di dalam Alkitab. Mereka tidak seterkenal Abraham, Musa atau Nuh. Mereka juga tidak setenar Paulus atau Petrus, dll. Nama keduanya hanya muncul 6 kali di seluruh Alkitab. (Kis, Roma dan 1 Kor). Priskila, wanita yang disebutkan dalam Perjanjian Baru, menunjukkan kepada kita bahwa seorang wanita menikah dapat terlibat secara aktif dalam usaha dan juga dalam penginjilan.

Ada dua hal yang harus kita simak dari pribadi Priskila, seorang yang melayani Tuhan dengan cakap. Pertama, Memiliki Hati Hamba. Priskila adalah pelayan yang cakap karena ia memperlengkapi diri dengan baik di dalam pelayanan, ia juga menguasai pokok-pokok iman Kristen. Salah satu contohnya adalah Apolos yang berasal dari Aleksandria adalah orang Yahudi pertama yang mereka bina/ajar tentang Jalan Allah (Kis. 18:24-26). Kedua, Berani Bayar Harga Bagi Kristus. Bagi Paulus, Priskila dan Akwila bukan rekan sekerja biasa. Di dalam suratnya, Paulus memuji dan menyebutkan pengorbanan mereka, yang rela mempertaruhkan nyawa bagi rasul Kristus itu, (Lihat Roma 16:4 ) Ketika Paulus dalam bahaya dan kesusahan yang besar, Priskila dan Akwila menjaganya walaupun hidup mereka sendiri dalam bahaya. Inilah harga mahal yang dibayar oleh Priskila karena kasihnya kepada Kristus.

Cinta Tuhan yang Akwila dan Priskila tunjukkan juga ditandai dengan kesungguhan mereka membina dan menampung jemaat Tuhan. Paulus mengatakannya di Roma 16:5a, “Salam juga kepada jemaat di rumah mereka.” Kata “jemaat” di sini bisa berarti kumpulan orang yang percaya kepada Kristus. Dari sini, kita belajar jiwa dan semangat pemberitaan Injil dan pengajaran ada di dalam diri mereka berdua. Mereka bukan hanya setia mengikuti Paulus, mereka juga bersemangat memberitakan Firman Tuhan, meskipun mereka berprofesi sebagai tukang kemah. Ini menjadi pelajaran buat kita. Kita yang berprofesi apa pun memang tidak dipanggil oleh Tuhan untuk melayani di mimbar gereja atau lainnya, tetapi Ia memanggil kita melayani-Nya dengan sungguh-sungguh. Teladan Akwila dan Priskila mengajar kita bahwa melayani Tuhan bukan sekadar aktivitas, namun panggilan dan panggilan itu direalisasikan dengan semangat memberitakan Firman.


Tuhan ajar kami sebagai pribadi maupun keluarga untuk bersama melayniMu seperti Akwila dan Priskila ini. Beri kami kemurahan hati untuk mendukung pekerjaanMu dengan apa yang bias kami lakukan supaya pekerjaan Tuhan lebih luas berkembang. Amin