MELAYANI DENGAN HATI NURANI YANG MURNI

28 April 2017 oleh Pdt. Putut Riyadi

church event

Baca Sekarang : 2 TIMOTIUS 1 : 1- 7


Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. … - 2 Tim 1 : 3

Surat 2 Timotius adalah surat terakhir Rasul Paulus, dan tidak lama setelah itu iapun mati sebagai martir di Roma. Saat kita membaca kedua ayat ini, maka kesan kuat yang bisa kita rasakan adalah bahwa Rasul Paulus, di akhir hidupnya tetap bersemangat dan tetap meyakini panggilan serta jalan hidupnya bersama Tuhan.

Dalam keteladanan itulah maka Paulus mengingatkan Timotius bahwa, sebagaimana "nenek moyangnya," umat zaman Perjanjian Lama yang setia kepada Allah, dirinya juga melayani Allah dengan hati nurani yang murni (ayat 3). Paulus melihat adanya kesinambungan antara pelayanan yang dilakukan dirinya dengan yang dilakukan oleh generasi sebelumnya yang setia kepada Allah. Karena itu, Paulus juga mengajak Timotius melihat hal yang sama pada dirinya. Timotius tidak hanya memiliki Paulus sebagai bapak rohaninya, ia juga memiliki keluarga yang memiliki warisan rohani. Lois, neneknya, dan Eunike, ibunya, memiliki iman yang tulus ikhlas (ayat 5). Paulus ingin Timotius menyadari siapa dirinya; yaitu sebagai penerus perjuangan iman dari generasi-generasi sebelumnya. Kesadaran akan hal ini akan menimbulkan rasa tanggung jawab yang lebih besar, sekaligus juga dasar yang lebih kokoh bagi pelayanannya, di dalam penyertaan "kasih karunia, rahmat, dan damai sejahtera dari Allah Bapa kita dan Kristus Yesus, Tuhan kita" (ayat 2).

Timotius harus mempertahankan hati nurani yang murni. “Hati nurani” dari kata Yun. syneidesis yang memiliki kata dasar yang berarti “saya tahu bersama dengan.” Hati nurani bersaksi tentang segala perbuatan, pikiran, dan sikap kita. Bila orang tidak memiliki hati nurani yang murni, bukan tidak mungkin ia akan mundur dari pelayanan bila merasa diragukan kemampuannya. Atau orang yang merasa rajin dalam berbagai aktifitas gereja, lalu pindah ke gereja lain karena tidak dikunjungi pendeta ketika sakit. Atau orang yang ingin terlibat pelayanan karena berharap dihormati orang lain, atau mengharapkan Tuhan membalasnya dengan kenyamanan hidup. Semua itu adalah wujud iman yang tidak tulus ikhlas dan hati nurani yang tidak murni. Tak heran ada yang mundur dari iman serta meninggalkan Tuhan karena merasa kecewa kepada Dia.

Jadi Saudara terkasih, hal penting lain yang harus kita perhatikan dalam pelayanan adalah perihal motivasi hati tulus dan murni yang harus kita miliki. Jangan sampai ada kepentingan-kepentingan terselubung: uang, mencari keuntungan diri sendiri, kemudian bermulut manis dengan kata-kata yang muluk-muluk supaya dipuji dan dihormati orang lain; namun teladanilah rasul Paulus ini: "Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku." (2 Timotius 1:3). Itulah sebabnya pelayanan Paulus membawa dampak yang luar biasa bagi banyak orang.


Tuhan kami rindu dapat meneladi para pahlawan Iman seperti rasul Paulus, dalam setiap langkah kehidupan dan pelayanan kami. Ajar kami melakukan pelayanan dengan hati nurani yang murni dan ketulusan sehingga pelayanan kami dapat member dampak dan memuliakanMu. Amin