MENYERAHKAN TONGKAT ESTAFET

29 April 2017 oleh Pdt. Putut Riyadi

church event

Baca Sekarang : 2 TIMOTIUS 2 : 1- 7


" Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain." - 2 Tim 2:2

Sebelum Tuhan Yesus naik ke surga, Tuhan memerintahkan murid-muridNya agar menjadikan bangsa-bangsa menjadi muridNya dan mengajar mereka untuk melakukan segala sesuatu yang telah Tuhan perintahkan kepada murid-muridNya (Mat 28:19-20). Perhatikan frasa “segala sesuatu”, hal ini berarti bahwa Tuhan ingin agar murid-muridNya tidak menyembunyikan sejumlah ajaran Tuhan Yesus, tetapi Tuhan ingin agar murid-muridNya mengajar orang lain sama seperti Tuhan Yesus telah mengajar murid-muridNya.

Demikian juga Paulus menasihatkan Timotius, anak rohaninya, agar mempercayakan apa yang telah ia peroleh dari Paulus kepada orang lain yang dapat dipercaya, yang juga cakap untuk mengajar orang lain (ay. 2). Paulus ingin agar Timotius mempercayakan Firman Tuhan dan ajaran Tuhan kepada orang lain. Tentunya, Paulus dan juga Tuhan menginginkan agar Firman Tuhan itu tidak berhenti hanya di satu generasi saja, sehingga Paulus mengingatkan Timotius juga mencari orang yang dapat dipercaya dan yang juga cakap mengajar orang lain. Paulus menekankan agar Timotius melakukan semuanya itu bukan karena terpaksa, tetapi karena Timotius sadar akan panggilannya dalam pelayanan. Timotius mengemban tugas dan tanggung jawab untuk meneruskan tongkat estafet berita Injil: dari Kristus kepada Paulus, Paulus kepada Timotius, dan Timotius kepada jemaat, begitu seterusnya.

Tidak sembarang orang yang dapat diserahi tongkat estafet berita Injil tersebut.Ada dua kriteria yang ditetapkan Paulus, yang harus dimiliki oleh orang-orang tersebut. Pertama, dapat dipercaya, dan benar-benar setia (bdk. 1 Korintus 4:1-2). Kedua, cakap/mampu mengajar orang lain (didaktikoi).Untuk menegaskan kedua persyaratan tersebut, Paulus mengambil contoh dari pemusatan pengabdian atau dedikasi seorang prajurit (ayat 4), ketertiban dan kepatuhan seorang olahragawan pada ketetapan yang berlaku (ayat 5), serta kesungguhan dan ketekunan bekerja seorang petani (ayat 6).

Saudara yang terkasih, ingatlah bahwa kita semua juga merupakan orang-orang yang telah dipercayakan Firman Tuhan dari orang lain. Mungkin orang yang mempercayakan Firman Tuhan kepada kita adalah kedua orang tua kita, atau mungkin saja kita menjadi orang percaya karena jasa dari orang lain yang mengabarkan Injil kepada kita. Sudahkah kita bersyukur kepada Tuhan atas hal itu? Atau pernahkah kita mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah mempercayakan Firman Tuhan itu kepada kita? Pertanyaan yang lebih penting lagi adalah apakah kita mau mempercayakan Firman Tuhan yang telah kita terima itu kepada orang lain? Mungkin kita mengelak dengan alasan belum siap, tidak berani, atau alasan-alasan yang lainnya. Tetapi ingatlah janji Tuhan bahwa Tuhan akan memberi kekuatan kepada kita melalui kasih karuniaNya (ay. 1), dan akan memberi pengertian kepada kita dalam segala sesuatu (ay. 7). Jadi seharusnya tidak ada alasan bagi kita untuk berkata tidak, melainkan kita harus berkata “Ini aku, utuslah aku” (Yes 6:8).


Kami sadar ya Tuhan bahwa pelayanan itu adalah milikMu, dan itu harus terus berjalan dalan kehendakMu. Ajar kami untuk siap dan bersandar padaMu ketika diberi pelayanan dan dapat siap ketika saatnya tiba harus menyerahkan tongkat estafet pelayanan ini kepada orang lain yang tepat. Amin