DOGMA GEREJA YANG BENAR, PRAKTIS DAN RELEVAN MENJADI SOLUSI MENGATASI KONFLIK

08 Juli 2017 oleh Pdt. Herman Soekahar, M.Th

church event

Baca Sekarang : KISAH 15:1-21


Kekristenan mengalami perkembangan yang signifikan, dan telah memenangkan orang-orang Yahudi dengan dengan latar belakang ke-yahudian nya yang sangat kuat. Dan juga memenangkan orang-orang non Yahudi dengan latar belakang kebudayaan, tradisi dan adat-istiadat mereka yang berlawanan dengan ke-yahudian. Ketika orang- orang Yahudi dan non Yahudi dimenangkan bagi Kristus, menjadi komunita Kristen dan harus mengikuti tata aturan baru di dalam Kristus, timbullah kesulitan baru berkaitan dengan pengajaran iman Kristen dan praktik hidup sebagai seorang Kristen sejati

Yang berlatar belakang Yahudi ingin menyusupkan ajaran dan tradisi ke-yahudian dalam ajaran iman Kristen sejati; contohnya:”Jikalau mereka hanya percaya Yesus Kristus saja, tetapi tidak disunat menurut adat istiadat Musa. Mereka tidak dapat diselamatkan”. (ayat 1). Orang Kristen non Yahudi harus juga disunat, kalau mau diselamatkan oleh Kristus

Sedangkan bagi orang Kristen non Yahudi, mereka merasa bahwa mereka telah menjadi orang merdeka, boleh makan apa saja. Tak ada pantangannya. Sikap sedemikian menjadi sandungan bagi orang Yahudi, karena ada banyak makanan yang dianggap najis dan haram untuk dimakan, misalnya: makanan yang sudah disajikan pada berhala, makan daging binatang yang mati tercekik.

Ketika gesekan dan perdebatan sengit mulai terjadi antara Kristen Yahudi dan Kristen non Yahudi, maka solusinya, diadakan pertemuan raya para pemimpin Gereja untuk menetapkan dogmatika gereja yang dijadikan fondasi kehidupan berjema at yang terdiri dari orang Yahudi dan non Yahudi.

Keputusan penting yang menjadi dogma Gereja mula-mula adalah sebagai berikut: Allah tidak membedakan bangsa Yahudi atau non Yahudi, setelah menyucikan mereka oleh iman di dalam Kristus (ayat 9), tidak boleh meletakkan kuk pada mereka yang percaya kepada Kristus, karena kasih karunia Kristus kita diselamatkan (ayat 10-11), dilarang menimbulkan kesulitan pada mereka yang mau berbalik pada Allah (ayat 19). Mereka tidak perlu disunat seperti orang Yahudi. Orang Kristen non Yahudi harus menjauhkan makanan yang telah dicemarkan oleh berhala, percabulan, daging binatang yang mati tercekik dan makan darah (ayat 20). Keputusan bersama yang menjadi dogma gereja ini perlu disampaikan kepada jemaat Tuhan yang sudah lama ada pada waktu itu dan juga pada jemaat yang baru didirikan, karena injil Kristus bagi orang-orang Yahudi dan juga non Yahudi.

Dogma gereja yang dipahami secara jelas sebagai pengakuan iman bersama akan menjaga kebersatuan jemaat Tuhan yang berasal dari latar belakang berbeda dan iman Kristen tersebut dapat diwariskan pada generasi mendatang.


Ya, Tuhan Yesus, tolonglah kami agar dapat mempertahankan hakiki iman Kristen kami secara gigih dan dogma gereja kami secara konsisten demi memelihara kebersatuan Umat-Mu. Amin.