PENGHARAPAN ORANG PERCAYA

08 Juni 2017 oleh Bpk. Thung Shang U

church event

Baca Sekarang : 1 Kor 15: 19; II Kor 4: 16-18


Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. – 2 Korintus 4: 18

Satu kali saya membesuk seorang jemaat yang sudah lanjut usia, saya tanya dia kenapa mau percaya Tuhan Yesus? Jawabnya: anak saya tidak ada yang berbakti, saya percaya Tuhan supaya satu hari kalau saya mati, gereja bisa mengurusi kematian saya. Dia jawab dengan jujur, tapi saya sangat terkejut. Tidak dapat dimungkiri, ada juga jemaat yang hanya mengganggap Tuhan Yesus sebagai “dewa kekayaan”; “dewa penyelamat”, menganggap gereja sebagai tempat perlindungan. Mereka mengharap setelah percaya Tuhan Yesus, nasib mereka berubah, badan sehat, dilindungi Tuhan, usahanya diberkati, kalau sakit, ada hamba Tuhan datang membesuk; berdoa. Pengharapan demikian memang tidak salah, tapi demikian dangkalkah alasan dan pengharapan orang untuk percaya Tuhan Yesus? Kalau memang begitu, tidak heran kalau yang hadir dalam KKR; pembinaan iman dan pemahaman Alkitab di Sel Grup; doa pagi dan doa bidston, jumlahnya tidak pernah banyak, hanya setahun sekali waktu di Kebaktian HUT Gereja dan Perayaan Natal baru terlihat hati cinta Tuhan yang berkobar-kobar dan kerinduan akan Firman Tuhan yang amat sangat, satu kebangunan rohani yang luar biasa tampak pada saat itu.

Setiap kali membaca surat Paulus untuk jemaat Tuhan, hati selalu terharu dan juga malu. Betapa jauh perbedaan kita dengan Paulus dalam mengasihi dan melayani Tuhan! Dia berkata kepada jemaat di Korintus: “Apakah mereka pelayan Kristus?” – aku berkata seperti orang gila – aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami kapal karam, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan ridak menyebur banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat. Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?” (2 Kor 11: 23-29). Mengapa Paulus rela menderita sedemikian rupa? Selain karena dia mengenal hidup (Fil 3: 7-8) dan ingin membalas kasih Tuhan yang amat besar (1 Kor 15: 9-10a; 1 Tim 1: 15-16) juga karena pengharapan dia tertuju kepada tanah air sorgawi yang lebih baik serta kekal abadi yang Tuhan Yesus sediakan buat dia. Di sana, dia boleh diam bersama-sama dengan Kristus untuk selama-lamanya yang jauh lebih baik daripada di dunia (Fil 1: 23) karena pengharapan itulah dia berkata: “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarnag ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” (2 Kor 4: 16-18)


Ya, Tuhan Yesus, bimbing kami agar kami lebih sungguh lagi mengasihiMu, lebih rindu lagi untuk mendengar Firman Tuhan. Sehingga pengharapan kami bukanvdidasarkan pada keinginan kami saja tetapi didasarkan akan rasa cinta kami kepadaMu. Amin