SUKACITA RASUL PAULUS

12 Juni 2017 oleh Bpk. Thung Shang U

church event

Baca Sekarang : Filipi 4: 1-3


Karena itu, saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih! – Filipi 4: 1

Semua orang ingin ada sukacita, tapi bukan ingin terus langsung dapat. Sukacita adalah perasaan hati manusia yang tidak dapat dipaksakan, tapi muncul secara otomatis saat seorang mengalami sesuatu hal yang dapat menyenangkan hatinya.

Ada banyak hal bisa membuat orang sukacita, tapi umumnya kebanyakan karena beroleh keuntungan. Misalnya: dapat undian, dapat uang banyak, pindah rumah baru, buka toko baru, dan lain-lain sukacita yang bersifat duniawi; sukacita sementara yang sewaktu-waktu bisa hilang karena berubahnya situasi, kondisi dan keadaan.

Rasul Paulus di dalam penjara, menulis surat kepada jemaat di Filipi, katanya: “Karena itu, Saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku.” (ayat 1a). Mengapa Paulus di tengah penderitaan tidak sedih hati tapi bersukacita? Dari Fil 4: 1-3 kita menemukan beberapa alasan: 1] Paulus bersukacita karena hatinya terpaut kepada jemaat, jemaat Tuhan adalah sukacitanya. Di dalam penjara, Paulus tetap bersukacita karena mendengar mereka mengasihi Tuhan (Fil 1: 3-5). Dia yakin mereka dapat berdiri teguh dalam Tuhan dan bisa sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan (Fil 2: 2). Semua ini adalah hasil jerih payah Paulus dalam pelayanan. Jemaat bisa berdiri teguh dalam Tuhan dan mengasihi Tuhan, sehati sejiwa melayani Tuhan menjadi sukacita Paulus, juga sukacita bagi setiap hamba Tuhan yang sejati. Kalau bukan hamba Tuhan yang sejati, tidak akan memperhatikan domba Tuhan dengan sepenuh hati (Yoh 10: 12), melayani asal saja. Hamba Tuhan yang demikian tidak akan merasakan sukacita yang Paulus rasakan. 2] Paulus bersukacita karena jemaat bisa sehati sepikir dalam Tuhan. Di dalam penjara, Paulus menjadi susah hati mendengar dua rekan sekerjanya berselisih, maka dalam suratnya dia berpesan kepada mereka: “Euodia kunasehati dan Sintikhe kunasehati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan.” (ayat 2). Paulus secara terbuka menasehati kedua saudari yang berselisih di dalam surat kepada seluruh jemaat, menandakan perselisihan mereka sudah menjadi nyata dan diketahui semua jemaat, perselisihan ini akan merusak kesatuan keluarga Allah. Paulus menasehati mereka sehati sepikir dalam Tuhan, ‘dalam Tuhan’ adalah cara yang terbaik untuk meyelesaikan perselisihan, tidak peduli siapa benar siapa salah, sudah seharusnya saling memaafkan di dalam Tuhan. Jemaat saling mengasihi, sehati sepikir adalah sukacita Paulus juga sukacita bagi semua hamba Tuhan, karena jerih payah mereka tidak sia-sia. 3] Paulus bersukacita karena ada banyak rekan sekerja yang setia melayani bersama-sama dengan dia. Sekalipun Paulus ada di penjara, ketika dia ingat banyak rekan sekerja yang setia mendukung pekerjaannya, hatinya menjadi sukacita, bahkan nama mereka dituliskan dalam suratnya (ayat 3). Sukacita bagi seorang hamba Tuhan yang sejati adalah semua jemaat mau mendukung pekerjaannya, mengikuti saran dan pengarahannya. Yang paling mengecewakan dan mendukakan hati hamba Tuhan adalah jemaat tidak mau mendengar nasehatnya malah membantah, berjalan menurut kehendaknya sendiri.

Gereja sedang maju, tapi iblis juga sedang mencari-cari kesempatan untuk menghancurkan pekerjaan Tuhan, pemimpin-pemimpin gereja, waspadalah!


Ya, Tuhan Yesus, bimbing kami agar kami selalu sehati, sepikir, dalam satu kasih dan satu tujuan yaitu memuliakan Engkau. Amin