TETAP SUKACITA DALAM PENDERITAAN

13 Juni 2017 oleh Bpk. Thung Shang U

church event

Baca Sekarang : Roma 5: 1-5


Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. – Roma 5: 5

Jalan pagi di perumahan sungguh menyenangkan, mau ke arah mana saja, semua jalan sudah di pasang paving, rapi dan bersih, menambah keindahan perumahan, memberi perasaan leluasa dan nyaman bagi setiap pejalan pagi.

Pagi itu, seperti biasa saya pergi jalan pagi, di tengah jalan perhatian saya tertarik oleh setangkai tumbuhan kecil yang tumbuh di celah paving jalanan, saya mendekati dan memperhatikan, terlihat akarnya menyusup ke celah paving yang dalam. Di musim panas ini, bukan hanya tidak mendapat curahan air hujan, tapi sepanjang hari juga harus menahan panasnya terik matahari, kadang kala mungkin bisa terinjak oleh orang jalan pagi, tapi ia buka saja tidak mati, melainkan tegar tumbuh dalam keadaan sukat, bahkan selalu menari dengan tubuh ramping lemah berikut beberapa daun agak kuning pucat karena kekurangan cairan ketika ditiup angina, seolah-olah masih tetap gembira memuji keagungan pencipta semesta alam dan bersyukur untuk hari yang baru yang Tuhan berikan. Betapa kuat dan lihat semangat hidupnya! Saya sangat terharu dan berpikir, kita manusia ketika datang kesusahan dan penderitaan lantas kecewa dan putus asa, hilang semangat untuk terus berjuang, kadang kala anak Tuhan juga sama, kalah dengan tumbuhan kecil yang hidup d celah paving! Rasul Paulus menasehati jemaat di Roma, katanya: “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan.” (Roma 5: 3-5a). Mengapa Paulus bisa berkata demikian? Karena kita adalah anak Tuhan; biji mataNya, kesusahan dan penderitaan bisa menimpa kita pasti ada sudah seijin Dia, kalau sudah seijin Dia pasti ada rencanaNya yang baik, melalui kesusahan dan penderitaan membentuk kita, supaya kerohanian kita lebih tegar dan kuat sama seperti tumbuhan kecil yang hidup di celah paving itu. Kalau kita tahu kesusahan dan penderitaan datang sudah seizin Tuhan, maka kita bisa tekun dalam penderitaan, memandang penderitaan sebagai alat untuk melatih iman kita, seperti seorang murid ingin belajar ilmu silat kepada gurunya, dia harus menghadapi banyak latihan keras dan terima bentakan dari gurunya, mula-mula tentu saja menderita, tapi melalui kesabaran dan ketekunan yang berulang-ulang, maka menimbulkan tahan uji, menanggap latihan keras dan bentakan guru sebagai hal yang biasa, sebagai proses untuk menuju kesuksesan. Karena meraih kesuksesan menjadi satu pengharapan, maka bisa bertekun menghadapi penderitaan yang hanya sementara seperti kesaksian Paulus kepada jemaat di Korintus apa alasannya rela menderita karena Injil, katanya: “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.” (2 Kor 4: 17)

Kiranya Tuhan menolong kita, melalui tumbuhan kecil di celah paving memberi kita satu pelajaran mahal, tetap ada sukacita dalam kesusahan dan penderitaan, masih bisa memuji Tuhan; bersyukur kepada Tuhan. Karena tahu penderitaan yang Dia ijinkan untuk membawa kita naik ke puncak gunung rohani, mendapat kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya.


Ya, Tuhan Yesus, ajarkan kami untuk terus bersukacita dalam kesusahan dan penderitaan, karena kami tahu bahwa penderitaan dan kesusahan yang Engkau berikan akan membawa kami naik ke puncak gunung rohani yang lebih tinggi lagi. Amin