TANYA TUHAN SAAT DATANG KESUSAHAN

28 Juni 2017 oleh Bpk. Thung Shang U

church event

Baca Sekarang : 1 Samuel 28: 3-10


Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. – Amsal 3: 5

Bahaya atau kesusahan yang membuat kita kehilangan akal sering menjadi ujian paling baik bagi kita, apakah tetap percaya dan setia kepada Tuhan. Tidak sedikit anak Tuhan gagal dalam ujian ini, mereka bukan bertanya kepada Tuhan tapi kepada ahli-ahli sihir atau orang pintar, minta pertolongan kepada mereka. Raja Saul yang di Alkitab adalah salah satu contoh yang tepat.

1 Sam 28 mencatat, ketika Saul mengumpulkan seluruh orang Israel berkemah di Gilboa, Saul melihat banyak tentara Filistin, maka takutlah dia dan hatinya sangat gemetar, dia cepat-cepat bertanya kepada Tuhan. Sebenarnya dia tidak sungguh-sungguh percaya Tuhan, takut akan Tuhan, karena dia selalu berbuat dosa menyakiti hati Tuhan, dia mengejar dan ingin membunuh Daud hanya karena iri hati, dia juga tidak mau taat perintah Tuhan yang disampaikan melalui Samuel, memberanikan diri untuk mempersembahkan korban bakaran yang bukan hak dan wewenangnya (1 Sam 13: 8-14). Dia juga melanggar perintah Tuhan, tidak mau membunuh Agag, raja orang Amalek dan memusnahkan kambing dombanya orang Amalek (1 Sam 15: 3-9). Semua dosa yang dia buat telah membangkitkan amarah Tuhan. Sekarang, dalam keadaan bahaya, dia baru datang bertanya kepada Tuhan, tetapi Tuhan tidak menjawab dia, baik dengan mimpi, baik dengan urim, baik dengan perantaraan para nabi, sedangkan Samuel sudah mati, mau Tanya siapa? Di saat jalan buntu, dia mengingkar larangan yang dia sendiri tetapkan, yaitu untuk menyingkirkan dari dalam negeri para pemanggil arwah dan roh peramal, dengan cara menyamar, dia mengenakan pakaian lain, diam-diam di waktu malam pergi ke En-Dor, menemukan seorang perempuan pemanggil arwah, dia menyangka dengan cara demikian, tidak ada yang tahu, tapi dia lupa, ada Tuhan yang maha hadir dan maha tahu.

Saul berulang-ulang kali berbuat dosa, menyakiti hati Tuhan dan tidak bertobat, terakhir, dia dan anak-anaknya mati di medan pertempuran.

Seandainya, ketika raja Saul naik tahta kerajaan, dia mau mendengar perkataan Tuhan, mentaati peraturan dan perintahNya, pasti akan diberkati Tuhan dan tidak mungkin mengalami nasib yang malang ini. Kesudahan Saul yang tragis ini patut menjadi peringatan buat kita semua, apakah kita tetap teguh setia dan percaya kepada Tuhan dan hanya bertanya dan berseru kepadaNya saat datang bahaya dan kesusahan?


Ya, Tuhan Yesus, ajarkan kami untuk tetap memegang teguh iman kami, hanya berseru kepadaMu saat bahaya dan kesusahan datang. Amin