KEARIFAN DAN KEBODOHAN RAJA ASA

29 Juni 2017 oleh Bpk. Thung Shang U

church event

Baca Sekarang : II Tawarikh 14: 1-12; 16: 1-12


Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. Dalam hal ini engkau telah berlaku bodoh, oleh sebab itu mulai sekarang ini engkau akan mengalami peperangan." – II Tawarikh 16: 9

Asa adalah anak Abiam (Abia) dia menjadi raja Yehuda selama 41 tahun. Perbuatan masa hidupnya ada yang bisa menjadi contoh, namun ada juga yang patut menjadi peringatan. Melalui Alkitab, kita lihat prestasi dalam hidupnya untuk menarik satu pelajaran buat kita. 1] Asa setia beribadah kepada Tuhan. Ketika dia menjadi raja, dia setia beribadah kepada Tuhan. Melakukan apa yang benar di mata Tuhan, menjauhkan segala berhala yang dibuat oleh nenek moyangnya, memecat neneknya dari pangkat ibu suri, karena neneknya membuat patung Asyera yang keji, dia merobohkan patung yang keji itu dan membakarnya di lembah Kidron (I Raja 15: 9-15; II Taw 14). Demi membela nama Tuhan yang Maha Mulia dan Kudus, dia rela menerima segala resiko yang mungkin akan dihadapi. Tuhan berkenan kesetiaannya dan memberkati dia, sehingga kerajaannya aman (II Taw 14: 1-6). 2] Asa minta kekuatan dan pertolongan kepada Tuhan saat datang bahaya. Ketika raja Etiopia membawa sejuta tentara dan tiga ratus kereta maju berperang melawan Yehuda, Asa tiak mengandalkan pahlawan-pahlawannya yang gagah perkasa, dia merendahkan hati di hadapan Tuhan, mengaku dirinya sangat lemah, butuh kekuatan dan pertolongan dari Tuhan, dia berseru kepada Tuhan: “Ya Tuhan, selain dari pada Engkau, tidak ada yang dapat menolong yang lemah terhadap yang kuat. Tolonglah kami ya Tuhan, Allah kami, karena kepada-Mu lah kami bersandar dan dengan nama-Mu kami maju melawan pasukan yang besar jumlahnya ini. Ya Tuhan, Engkau Allah kami, jangan biarkan seorang manusia mempunyai kekuatan untuk melawan Engkau!” Asa dalam keadaan bahaya, tetap mengutamakan nama Tuhan yang mulia, tidak mau nama Tuhan dipermalukan oleh musuh karena kekalahannya. Tuhan mendengar doanya membuat dia menang dalam peperangan melawan Zerah, orang Etiopia. 3] Asa bodoh di masa tuanya, tidak lagi mengandalkan Tuhan. Kalau kita membaca II Taw ps. 16 dengan teliti, kita pasti akan heran dan menyayangkan kebodohannya. II Taw 14: 1-12 mencatat bagaimana Asa setia kepada Tuhan, tapi mulai ps. 16, imannya kepada Tuhan mulai luntur. Ketika Baesa raja Israel, maju berperang melawan Yehuda, dia tidak lagi berseru kepada Tuhan, tapi Asa mengambil segala emas dan perak yang masih tinggal dalam perbendaharaan rumah Tuhan untuk menyuap Benhadad bin Tabrimon bin Hezion, raja Aram yang diam di Damsyik, supaya berperang melawan Israel. II Taw 16: 12 mencatat, pada tahun ke-39 pemerintahannya, dia menderita sakit pada kakinya yang kemudia menjadi semakin parah, namun dalam kesakitannya itu, dia tidak mencari pertolongan Tuhan, tapi pertolongan tabib-tabib, akhirnya meninggal dunia dengan tragis. Asa semula takut Tuhan, mengandalkan Tuhan, mengapa dikemudian hari tidak lagi mengandal Tuhan, tapi minta pertolongan orang? Kita tidak tahu, mungkin saat baru menjadi raja, banyak sekali urusan perlu pertolongan Tuhan, setelah Tuhan memberkati, pemerintahannya aman, membuat dia hidup santai dalam kelimpahannya di istana, lama kelamaan, akhirnya lupa Tuhan, tidak seperti semula memerlukan Tuhan lagi.

Kadang kala, anak Tuhan juga bisa seperti Asa, ketika baru mulai usaha, sangat membutuhkan pertolongan Tuhan, berdoa dengan sungguh-sungguh, tapi, setelah diberkati Tuhan, usahanya meningkat terus, pergaulan mulai sibuk, uang sudah banyak, beking pun banyak, beribadah mulai berangsur-angsur kurang, doa biston sudah tidak hadir, ketika datang masalah, cari beking bukan cari Tuhan lagi. Biar kesudahan Asa menjadi peringatan buat kita!


Ya, Tuhan Yesus, ajarkan kami untuk tetap memegang teguh iman kami. Amin