Tak mampu melawan arus

02 Mei 2017 oleh Sdri. Chandra Tuspitasari

church event

Baca Sekarang : Matius 27 : 11-26


Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya dihadapan orang banyak dan berkata :”aku tidak bersalah terhadap Dia”. - Matius 27:24

Aku percaya kepada Yesus Kristus, Anak Allah yang tunggal, yang menderita sengsara dibawah pemerintahan Pontius Pilatus, dsalibkan, mati dan dikuburkan”. Inilah sepenggal catatan sejarah, yang menjadi pengakuan iman orang kristiani sepanjang abad. Ya, kredo ini selalu terulang dalam sejarah. Penguasa yang seharusnya menegakkan kebenaran, justru menyerah tak berdaya. Mari bayangkan posisi Pilatus sebagai penguasa tertinggi di Palestina, waktu Yesus dituduh menista agama dan adat istiadat serta melecehkan penguasa. Pilatus sadar Yesus tidak bersalah (Luk 23:22), tetetapi ia tidak berdaya apda tekanan massa yang sudah terprovokasi dan menuntut Yesus dsalib. Pilatus hanya bisa mencuci tangan, tanda tak mau terlibat mengambil keputusan yang salah. Ia menyerahkan Yesus pada pengadilan massa yang beringas dan bermata gelap, dengan nafsu tak terbendung untuk membunuh mesias.

Membela yang benar, mengambil keputusan yang melawan arus dengan resiko kehilangan jabatan, pekerjaan, kehormatan, kenikmatan serta ikut tersalibkan, siapa yang tahan?. Mencuci tangan , atau berdiam diri dan menjauh dari kebenaran adalah tindakan lazim para pengecut yang mengikuti arus demi menyelamatkan diri sendiri. oh, itulah “aku”, manusia celaka ini, siapa yang bisa menyelamatkanku dari kekejian ini? Syukur kepada Allah, sebab Yesus telah menajdi “korban” dosaku dan dosamu. Kini aku sudah diselamatkan dari kutuk maut, bukan karena jasaku, tetapi karna ramat-Mu melalui Kristus (Rm 7:23-25, 8:1-2).


Bapa, kami menyadari bahwa hidup yang kami jalani ini bukan hal yang mudah. Ada begitu banyak tantangan yang kami hadapi saat kami mencoba untuk setia kepada-Mu. Melawan arus dunia yang jahat ini kami tak mampu sendiri, kami butuh Engkau. Tuhan tolonglah kami. Jika sekiranya selama hidup kami, kami justru terjebak perangkap dan mengikuti arus dunia yang jauh dari perkenanan-Mu, maka ampunilah kami ya Tuhan. Amin