Asal bukan Yesus

03 Mei 2017 oleh Sdri. Chandra Tuspitasari

church event

Baca Sekarang : Matius 27 : 15-26


Tetapi oleh hasutan imam-iman kepala dan tua-tua, orang banyak bertekad untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati. - Matius 27:20

Pilihan orang banyak tidak selalu mewakili kebenaran, suara terbanyak, mayoritas, teriakan protes atau demo mengatasnamakan rakyat belum tentu menyuarakan kebenaran. Itu bisa diatur oleh pemain yang berada dibelakang panggung. Sentiment pribadi, kebencian, dendam dan kedengkian bisa menjadi kendali yang sebenarnya. Tak soal siapa yang diusung, yang penting hasil yang diinginkan ialah asal bukan orang yang tak dikehendaki.

Memang mengejutkan manakala orang banyak disuruh memilih antara Yesus dan Barabas seorang penjahat besar dan ternyata pilihan untuk dibebaskan jatuh pada si penjahat besar itu. Rupanya memang persoalan bukan pada kualitas Barabas, melainkan ditentukan oleh scenario “Asal Bukan Yesus”. Dibalik scenario itu berdiri para pembenci Yesus dengan motif dengki dan modus hasutan mereka yang efektif (ay 18,20). Tujuanya satu, membunuh si “orang benar itu” (ayat 19). Detik-detik menjelang penyaliban Yesus sejatinya adalah drama kotor pembunuhan kebenaran.

Skenario pembunuhan kebenaran kita saksikan dalam keseharian hidup. Kita dibuatnya kaget, sedih, berang, geram, bahkan tak jarang kecewa berat. Namun penyaliban Yesus membuktikan, scenario Allah selalu unggul. Penyaliban-Nya justru melayani tujuan-Nya, yakni penyelamatan dunia.

“Siasat licik tak bakal Berjaya terus. Percayalah, tiada yang sanggup membinasakan kebenaran.”


Tuhan, aku percaya bahwa tidak ada satu hal pun terjadi dalam hidupku tanpa seijin-Mu yang penuh rancangan terbaik. Bahkan jika terjadi sesuatu yang sulit sekalipun, Tuhan bisa ubahkan menjadi jalan sukacita. Aku menyerahkan kehidupanku kedalam rencana-Mu ya Tuhan. Mampukan aku terus percaya dan berserah hanya pada jalan-Mu. Amin