Kelemahan Titanic

23 Mei 2017 oleh Sdri. Chandra Tuspitasari

church event

Baca Sekarang : Hakim-hakim 16 : 16-22


“tetapi tidaklah diketahuinya bahwa Tuhan telah meninggalkan dia.” - Hakim - Hakim 16 : 20

15 April 1912 kapal pesiar termegah waktu itu, Titanic menabrak gunung es di lautan Altantik. Dari 2.208 orang penumpang hanya 712 orang yang berhasil selamat. Ternyata di kapal itu hanya tersedia 20 perahu penyelamat. Banyak yang berkomentar “itulah kelemahan Titanic; tidak tersedia cukup perangkat darurat.” Benarkah begitu? Secara teknis memang demikian, tetapi sebenarnya persoalannya lebih dalam lagi. Kegagalannya menyelamatkan penumpang bersumber dari sebuah kesombongan. Sesumbar bagi kapal megah itu ialah “tidak mungkin tenggelam.”

Detik-detik terakhir pudarnya kekuatan Simson dikisahkan dalam bacaan ini, dimana sepintas kita akan menyangka pada rambutnya yang pantang untuk dicukur itu. Memang, secara teknis sejak rambutnya dipangkas, Simson lemas. Namun sesungguhnya persoalannya lebh dalam dari itu. Sudah lama ia meremehkan janji kenaziran yang ditetapkan Tuhan baginya, sampai ujungnya ia benar-benar mengkhianatinya. Sungguh ironis, ia sampai tidak tahu ketika Roh Tuhan sudah meninggalkan dia. Ia pongah, merasa kekuatannya berada dalam kendalinya.

Ketidaksetiaan dan kejatuhan bisa bersumber dari kecerobohan sseorang yang terus mempermainkan karunia Tuhan. Sesungguhnya, karunia-Nya kepada kita tak terkira; tenaga, kesempatan, kesehatan, bakat, harta dll. Kiranya kita jangan mempermainkannya agar kita jangan tertimpa akibatnya.

“semua kejatuhan manusia bersumber dari sikap memandang ringan Tuhan dan anugrah-Nya.”


Tuhan Yesus, pasti pernah didalam hidupku atau mungkin sampai saat ini dalam hatiku aku lebih mengutamakan apa yang aku miliki daripada Engkau. Ampunilah aku ya Tuhan, dan janganlah biarkan aku jatuh dan terhukum karena lebih mengandalkan apa yang aku miliki daripada Engkau. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Amin