“Kehilangan Upah dari Tuhan”

30 Mei 2017 oleh Sdri. Chandra Tuspitasari

church event

Baca Sekarang : Matius 6 : 1-4


“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu dihadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapa-Mu yang di surga - Matius 6 : 1

Keterlibatan dalam rutinitas gerejawi sering dianggap sebagai syarat untuk memperoleh upah dari Allah. Padahal, rutinitas gerejawi atau kegiatan keagamaan tidak secara otomatis diganjar berkat atau upah oleh Bapa. Mungkin saja umat Tuhan melakukan kegiatan keagamaan atau aktivitas kerohanian tersebut baik, tetapi tidak jarang hal itu hanya untuk diliat dan dipuji orang semata.

Yesus menegaskan hal tersebut ketika Dia melarang para murid dan pendengar-Nya melakukan kewajiban agama hanya untuk diliat oleh manusia. Frasa “supaya diliat mereka” lekat sekali dengan keinginan untuk mendapatkan pujian dari manusia. Untuk apa ingin dilihat, kecuali demi mendapatkan pujian? Nah, orang-orang yang melakukan hal tersebut (mencari pujian) dalam hal memberi sedekah, berdoa, melayani di gereja, bersaksi, menginjil atau yang lain memang akan memperoleh upahnya, tetapi hanya dari manusia saja. Upah yang jauh lebih berharga, yakni dari Bapa Surgawi, tidak mereka peroleh karena mereka tidak melakukannya dengan tulus bagi Allah.

Nasihat peringatan Yesus itu tentu saja bukan untuk melarang umat Tuhan melakukan aktivitas rohani, melainkan supaya umat Tuhan tidak terjebak dalam motivasi yang keliru. Upah dari Bapa Surgawi sungguh tidak dapat dibandingkan dengan upah dari manusia karena upah Surga bersifat kekal. Bagaimana denga motivasi kita selama ini ketika melakukan aktivitas rohani? Sudahkan kita melakukannya supaya mendapat perkenanan dari Allah?

“ketika Allah sudah berkenan, upah dari-Nya tidak akan jauh dari hidup kita.”


Tuhan Yesus, Engkau mengenal hatiku, Engkau mengenal hidupku. Ampunilah aku jika sekiranya selama hidupku tidak ada ketulusan untuk sungguh-sungguh melayani Engkau. Atau mungkin jika aku ke gereja hanya ingin mencari hal yang lain yang menjadi kebutuhan materi, atau yang lain namun bukan untuk memuliakan Engkau. Mulai saat ini pimpinlah kami untuk memfokuskan diri kami bukan untuk apa yang baik hanya bagi manusia semata, tapi yang paling utama adalah bagi-Mu. Amin