“Bijak Menahan Kata”

31 Mei 2017 oleh Sdri. Chandra Tuspitasari

church event

Baca Sekarang : Bilangan 20 : 2-13


“ Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang. - Kolose 4:6

Pepatah “ Lidah lebih tajam daripada pedang” seringkali diartikan bahwa kata-kata kasar disertai amarah yang keluar dari mulut kita dapat menyakiti orang lain dengan sangat dalam. Namun, tidak hanya menyakiti orang lain, kata-kata kasar sebenarnya juga menyakiti diri sendiri dan membawa kerugian.

Musa adalah salah satu bukti nyatanya. Suatu kali, bangsa Israel kembali mengeluh kepada Musa karena tidak ada air di padang gurun. Musa dan Harun segera menemui Tuhan, lalu Allah memerintahkan Musa untuk berkata kepada bukit batu di depan bangsa Israel agar terpancar air. Karena Musa mungkin lelah mendengar kata-kata mengenakkan yang keluar dari mulut orang Israel, emosi Musa memuncak dan ia mengatakan “ Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” (ay. 10). Tidak hanya itu, dengan emosi Musa memukul batu itu sampai dua kali, padahal seharusnya Musa cukup berkata saja maka akan keluar air. Musa mendukakan Tuhan, di dalam kata dan perbuatan.

Kita mungkin seringkali mengalami hal yang sama dnegan Musa. Ketika emosi memuncak, perkataan dan perbuatan kita tidak terkontrol. Akhirnya kita menyakiti hati orang lain dan ujung-ujungnya kita sendiri pun terluka. Baiklah kita belajar bijak dalam mengeluarkan kata-kata dari mulut kita. Apabila kita emosi, tahanlah kata-kata kasar yang hendak dikeluarkan. Tenangkanlah hati. Jangan sampai kita menjadi seperti Musa yang kemudian di hukum Tuhan hingga tidak bisa masuk ke tanah perjanjian. Ini memang tidak mudah, tetapi mari bersama kita berjuang menjinakkan kata-kata dan amarah.

“jika tidak ada kata baik yang bisa keluar dari mulut kita, maka lebih baik kita DIAM!”


Tuhan Yesus, seringkali terlalu sulit bagiku menahan amarah dan kata-kata yang tidak baik. Namun firman-Mu mengingatkan aku bahwa tidak seharusnya bagi kami hidup dengan cara demikian sebagai anak-Mu. Bapa, kuatkan aku untuk dapat terus meneladani Firman-Mu, menjaga hati dan bibirku untuk tidak mudah tersulut amarah. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin