KARUNIA KARUNIA ROH

04 September 2017 oleh Pdt. Putut Riyadi

church event

Baca Sekarang: 1 Korintus 14: 1-20


Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat. - 1 Korintus 14 : 1

Dalam pasal ini Paulus melihat berbagai masalah pada minat jemaat Korintus akan karunia bahasa Roh. "Bahasa Roh" sama artinya dengan "Bahasa Lidah" yang di dalam Alkitab Perjanjian Baru digunakan kata "Glossolalia" ("Glossa" = lidah, tongue; "laleo" = berbicara, speak).

Paulus menasihati anggota-anggota jemaat Korintus yang mendapatkan karunia-karunia istimewa dari Tuhan supaya mereka mengejar kasih, bukan karunia Bahasa roh. Pertama, itu bukan karunia yang terutama sebab lebih berdampak pada kepentingan diri sendiri dibandingkan kasih atau nubuat yang berdampak pada pembangunan orang lain (ayat 1-5). Kedua, bahasa Roh akan membuat orang yang tidak biasa atau tidak seiman merasa ada sesuatu yang tidak waras pada orang yang berbahasa roh (ayat 6-9). Ketiga, Paulus melihat bahaya bahwa yang mereka katakan "bahasa" bukan bahasa tetapi bunyi-bunyi tanpa makna (ayat 10-17).

Bahasa roh adalah salah satu karunia rohani yang diberikan oleh Allah secara cuma-cuma, atau berdasarkan kasih karunia Allah. Bahasa roh diberikan oleh Allah atas kehendak-Nya sendiri dengan tujuan untuk membangun hubungan yang intim dengan umat-Nya. Bahasa roh akan berguna juga bagi orang lain jika bahasa roh tersebut disertai dengan karunia penafsiran.

Jadi saudara saudara : Tidak satu pun karunia Roh bersifat mutlak; hanya kasih yang mutlak. Karena itu, memiliki atau menggunakan karunia yang manapun bukan merupakan tanda kedewasaan rohani. Seseorang yang beriman harus terbuka terhadap karunia Roh dan jika mereka menerimanya, mereka harus menggunakannya dengan rasa syukur dan rendah hati.

Melalui nasihat dan anjuran Paulus kepada jemaat Korintus, kita mendapatkan beberapa pelajaran penting: [1] dengan mempertimbangkan orang lain maka relasi harmonis antara Allah, diri, dan sesama menjadi kenyataan; [2] bahwa karunia itu mengajarkan sesuatu untuk diri kita agar tidak egois dan bangga secara berlebihan. Hal sepantasnya yang kita lakukan adalah menerima segala karunia Allah dengan hati penuh rasa syukur dan terima kasih. Sikap inilah yang membuat karunia itu menjadi berharga dan tidak sia-sia.


Pengalaman rohani yang khas dan istimewa berkenaan dengan hubungan pribadi kita dengan Allah, seharusnya menjadi daya dorong kita untuk memberi tempat bagi orang lain dalam diri dan pelayanan kita.