MENGUCAP SYUKUR KARENA DIHIBUR

09 September 2017 oleh Pdt. Putut Riyadi

church event

Baca Sekarang: 2 KORINTUS 1 : 1 – 24


Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan - 1 Korintus 1 : 3

Paulus mengawali pemberitaan suratnya dengan ucapan syukur kepada Allah. Kalimat ini tentu bukanlah suatu hal yang kebetulan ditulis Paulus, tetapi kata-kata ini sengaja dicatatnya sebagai wujud penghormatan, penghargaan, dan syukurnya kepada Allah yang telah membuat segala sesuatunya berhasil. Dalam beberapa suratnya, Paulus selalu mengawali dengan ucapan syukur (I Kor 1:4;Fil 1:3; I Tes 1:2; I Tim 1:12) ini menandakan bahwa ia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Allah. Landasan Paulus untuk bersukacita dan bermegah ialah ketulusan dan integritas perilakunya. Dia telah menetapkan bahwa sepanjang kehidupan kekristenannya, dia akan tetap setia kepada Tuhannya.

Konsep ini menarik untuk menjadi aplikasi bagi kekristenan masa kini, sebagai umat yang telah diselamatkan porsi ucapan syukur harus menjadi hal yang utama, baik itu senang maupun susah. Paulus mengucap syukur bukan berdasarkan fasilitas yang dimilikinya, tetapi atas kasih karunia Tuhan Yesus Kristus (ayat 3). Paulus mampu menjalani segala penderitaan (ayat 4). Di dalam belas kasih Allah, Paulus telah menemukan rahasia pelayanan berkemenangan. Allah sendiri menjadi sumber penghiburannya.

Kata "penghiburan", dipakai Paulus pertama kali untuk menyebut Allah sebagai "sumber segala penghiburan" (3). Siapakah yang dihibur? Dialah Paulus yang mengalami segala penderitaan (4). Melalui penjelasan Paulus, dapat dikatakan bahwa apapun jenis penderitaan yang kita alami dan bagaimanapun intensitasnya, Allah akan menyediakan penghiburan dan kekuatan yang kita perlukan. Namun tidak berhenti untuk manfaat diri kita sendiri saja. Kita harus menjadi agen Allah dalam menghibur orang lain yang juga menderita (4). Orang yang pernah menderita akan lebih tahu bagaimana menghibur orang lain yang sedang menderita.

Kunci untuk melihat penderitaan terletak dalam Pribadi dan karya Tuhan Yesus. Akhir hidup Yesus menyatakan bahwa Ia telah mengubah kutuk menjadi berkat! Asal kita meresponsnya sebagaimana yang Paulus lakukan, yakni bagi kemuliaan Allah dan untuk kebaikan kita, penderitaan dapat mengantar kita makin dekat dengan Allah dan juga saudara-saudara seiman. Ingatlah bahwa penderitaan selalu hadir dengan janji penghiburan Ilahi!


Di dalam kuasa kemuliaan Allah, penderitaan tidak berakibat buruk melainkan dapat membuat Orang Percaya malah berdampak positif yaitu mampu menghibur jemaat Tuhan lainnya.