BELAJAR TENTANG KEDISIPLINAN

10 September 2017 oleh Pdt. Putut Riyadi

church event

Baca Sekarang: 2 KORINTUS 2 : 1 – 17


“Sehingga kamu sebaliknya harus mengampuni dan menghibur dia, supaya ia jangan binasa oleh kesedihan yang terlampau berat. Sebab itu aku menasihatkan kamu, supaya kamu sungguh-sungguh mengasihi dia. - 2 Korintus 2 : 7-8

Dalam artikelnya yang berjudul "Mengampuni: kuasa untuk merubah masa lalu", Lewis Smedes menulis, "Ketika Anda mengampuni seseorang, berarti Anda memperbarui ingatan Anda tentang diri orang tersebut." Namun, tak sedikit orang yang menolak untuk mengampuni, meski tahu bahwa mengampuni itu mulia, bahkan bermanfaat!

Bagi Paulus, pengampunan seperti peperangan. Jika orang Kristen tak mau saling memaafkan, itu berarti memberi Iblis kesempatan untuk memecahbelah tentara Kristus (11). Paulus mendorong jemaat Korintus untuk tidak menimbulkan kepahitan, walau orang tersebut bersalah terhadap jemaat (5). Orang yang bersalah memang harus ditegur! Tetapi jangan berhenti sampai di situ. Harus diingat juga perlunya pengampunan (7; band. Luk 17:3). Tindakan mengampuni menegaskan pengampunan Allah dalam diri orang itu (Kol 3:13).

Selanjutnya, jika tindakan disiplin diberlakukan, maka hasilnya harus diperhatikan. Jemaat tidak boleh cuci tangan, melainkan harus peka terhadap karya Roh Kudus dalam hidup orang itu. Di surat pertamanya, Paulus menegur jemaat yang membiarkan warganya yang berdosa (1 Kor 5:4-7). Rupanya teguran itu membuat mereka mendisiplin orang berdosa itu dengan berlebihan. Jika ada saudara yang harus didisiplin, sebenarnya seluruh jemaat harus turut sedih dengannya (ayat 5). Disiplin yang terlalu berat menyebabkan yang bersangkutan merasa sedih, kecewa dan tersudut, yang akhirnya nekad meninggalkan imannya sama sekali (ayat 7b). Disiplin adalah tindakan kasih (ayat 8) yang bertujuan memurnikan, bukan untuk menghukum, sampai orang undur dari iman.

Tindakan disiplin merupakan kesempatan bagi orang yang bersalah untuk bertobat dan dipulihkan menjadi seorang Kristen sejati. Selain itu juga harus menegaskan kasih mereka pada orang itu. Artinya harus ada kemauan untuk menerima kembali orang itu, dalam semangat memelihara kesatuan orang beriman. Jika jemaat Korintus mau memaafkan dan menerima kembali orang yang bersalah, itu berarti mereka menutup kesempatan bagi setan untuk mencari keuntungan dari konflik di antara orang beriman. Mengampuni berarti menolak setan yang selalu mencari kesempatan untuk menghancurkan kesatuan orang beriman.


Disiplin adalah tindakan kasih (ayat 8) yang bertujuan memurnikan iman, dan bukan untuk menghukum sampai orang tersebut undur dari iman.