HARTA DALAM BEJANA TANAH LIAT

12 September 2017 oleh Pdt. Putut Riyadi

church event

Baca Sekarang: 2 KORINTUS 4 : 1 – 14


“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” - 2 Korintus 4 : 7

Rasul Paulus dalam surat kepada gereja Korintus ini dengan begitu teliti memberikan rincian penjelasan siapa diri kita yang melayani Tuhan, kita adalah bejana-bejana tanah liat adanya. Paulus mengatakan bahwa ia memiliki suatu “harta rohani” yang luar biasa, yaitu keselamatan yang dianugerahkan Tuhan melalui Yesus Kristus, yang harus Paulus beritakan kepada orang-orang yang belum mengenal keselamatan itu. Walaupun harta rohani tersebut tidak ternilai dengan apapun juga, namun harta rohani tersebut tidak ditempatkan pada wadah yang bagus dan mahal, melainkan hanya ditempatkan pada bejana tanah liat saja (ay. 7a).

Rahasia inilah yang membuat Paulus tidak tawar hati meski mengalami banyak rintangan dalam pelayanan, karena ia sadar bahwa pelayanan pemberitaan Kristus begitu mulia (3:17-15). Bagi Paulus menjadi pelayan Injil merupakan kehormatan yang berasal dari kemurahan Allah semata (1). Kesadaran ini membangkitkan dua hal. Pertama, ketegasan untuk tidak menodai pelayanan yang mulia dengan tindakan dan motivasi yang tidak murni (2a). Kedua, bersungguh-sungguh agar Injil dapat diberitakan dengan cara yang membuat pendengarnya dapat memahami dengan benar (2b).

Paulus memiliki Yesus di dalam tubuhnya (ay. 10). Paulus membawa kematian Yesus (ay. 10a), yang dapat diartikan bahwa Paulus juga meneladani bagaimana penderitaan yang ditanggung Yesus, sehingga dalam keadaan yang sulit pun, Paulus dapat mengerti bagaimana penderitaan yang dulu ditanggung Yesus untuk menyelamatkan manusia (ay. 11). Paulus juga membawa kehidupan Yesus, yang dapat diartikan bahwa walaupun ada penderitaan yang harus dialami, tetapi kebangkitan Yesus membawa kita memiliki pengharapan akan upah yang besar di surga kelak (ay. 10b). Satu hal lagi yang membuat Paulus mampu menghadapi keadaan yang sukar adalah karena kasih yang dimiliki Paulus kepada jemaat-jemaat Tuhan (ay. 12). Tidak mengapa bagi Paulus ketika ia harus menderita, asalkan semakin banyak orang dapat mendengar kabar keselamatan, dan orang-orang yang telah percaya juga semakin bertumbuh dalam iman mereka.

Bagaimana dengan kita? Mungkin ada dari kita yang masih menjadi orang Kristen yang biasa-biasa saja? Hal tersebut berarti kita tidak menyadari potensi yang ada dalam diri kita. Tuhan telah meletakkan “harta rohani” di dalam tiap-tiap kita, Tuhan pun telah memberikan kita karunia dan talenta yang dapat kita gunakan untuk melayani Tuhan. Sudahkah kita menggunakannya? Dan bagi kita yang telah mengambil bagian dalam pelayanan, sudahkah kita menghayati esensi pelayanan?


Pelayanan seharusnya berarti bahwa kita memberikan yang terbaik kepada Tuhan karena Tuhan lebih dulu memberi yang terbaik kepada kita.