SESUDAH DUKACITA MUNCUL SUKACITA

15 September 2017 oleh Pdt. Putut Riyadi

church event

Baca Sekarang: 2 KORINTUS 7 : 2 – 16


“Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.” - 2 Korintus 7 : 10

Salah satu tanda kemajuan kehidupan rohani seseorang adalah kepekaannya akan dosa. Kesadaran akan keberdosaan akan membuat seseorang berdukacita secara mendalam dan berbalik mengikuti Allah dengan sungguh-sungguh.

Mungkin kita bertanya bukankah Allah itu sumber keselamatan? Bukankah keselamatan itu berarti sukacita dan damai sejahtera? Bagaimana mungkin Allah menyebabkan dukacita? Hari ini Alkitab mengajak kita memahamai tempat dukacita dalam kehidupan umat yang ditegur keras oleh hamba Allah. Kalau Paulus menegur mereka dengan keras dalam suratnya pertama tentang berbagai hal yang tidak beres, bukan berarti Paulus mengecilkan mereka. Sebaliknya Paulus tetap bangga akan jemaat satu ini yang jelas adalah hasil pelayanannya juga (ayat 2-4). Sebagai hamba Tuhan sejati, Paulus tak pernah akan melupakan berbagai dukungan yang telah diperlihatkan jemaat ini dalam keterlibatan mereka mendukung pelayanan Paulus (ayat 5-7). Justru karena kasih dan merasa diri akrab itulah Paulus rela menimbulkan kepedihan dan dukacita dalam jemaat itu.

Bagi Rasul Paulus, dukacita yang mengantar seseorang pada pertobatan adalah dukacita kudus yang membuahkan sukacita. Sebaliknya, bila seseorang bersukacita atas hal duniawi yang berdosa, ia akan diantar pada dukacita sejati karena tidak pernah bertobat (7:10-11).

Manusia menganggap perasaan dukacita sebagai perasaan negatif, dan sebaliknya sukacita dianggap sebagai perasaan positif. Wajar bila kita mengutamakan untuk mengalami sukacita dan menghindari dukacita. Namun, sukacita yang harus dikejar adalah sukacita sejati atas pertobatan diri kita. Tidakkah kita menikmati indahnya hidup yang semakin jauh dari dosa dan semakin dekat dengan Kristus.


Kasih sejati tidak lembek, membiarkan orang dalam dosa melainkan tegas menegur, menyatakan kesalahan, membimbing dengan kuasa ilahi sehingga mendapat sukacita sejati karena mengalami pengampunan dan pemulihan dari Allah