BERMEGAH DALAM KRISTUS

20 September 2017 oleh Pdt. Putut Riyadi

church event

Baca Sekarang: 2 KORINTUS 11 : 16 – 33


Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku. Allah, yaitu Bapa dari Yesus, Tuhan kita, yang terpuji sampai selama-lamanya, tahu, bahwa aku tidak berdusta. – 2 Korintus 11 : 30-31

Bagaimanakah kita menilai kualitas hamba Tuhan? Dari kerapiannya dalam berpakaian, banyaknya gelar yang dia sandang atau dari caranya berbicara? Tidak sedikit dari jemaat, sering terjebak menilai seorang pengkotbah dari penampilan luar, bukan dari kedalaman iman, keteladanan atau kualitas khotbah yang dia sampaikan. Para hamba Tuhan juga sering tergoda dengan banyaknya orang yang mengagumi dirinya, atau dari dahsyatnya pengalaman ajaib yang pernah dia alami, dan banyak ukuran lahiriah lainnya.

Hal demikian bukan baru sekarang terjadi. Itu sudah terjadi juga pada hamba-hamba Tuhan yang ada di tengah jemaat Korintus. Jemaat ini juga memiliki pandangan yang keliru bahkan terkesan sangsi akan kualitas kerasulan Paulus. Namun hal ini tidak terlalu dirisaukan oleh Paulus. Bahkan ia memberikan tanggapan yang bersifat paradoks dengan menyatakan, "Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku" (30). Sebetulnya bisa saja Paulus membanggakan garis keturunannya, pengalaman pertobatan (Kis. 22:6-15), atau latar belakang teologisnya (22).

Ketika para guru Yahudi mempunyai alasan untuk bermegah, Paulus menunjukkan bahwa ia pun sebenarnya punya banyak alasan untuk bermegah. Siapa leluhur Paulus sudah menunjukkan kualifikasi dirinya sebagai rasul, lebih dari cukup. Ia adalah seorang Israel, keturunan Abraham (22). Ia juga seorang Ibrani. Sebenarnya, Paulus memahami bahwa faktor keturunan bukanlah hal terpenting yang menentukan identitas kerasulannya sebagai hamba Yesus Kristus. Namun, banyak yang menganggap hal itu sebagai sesuatu yang penting.

Selain itu, Paulus menyatakan kerja kerasnya dalam pelayanan. Ia berjerih lelah dalam pelayanan (23), mengalami penganiayaan, disesah, dan didera juga (24-25). Paulus juga telah mengalami bahaya banjir, karam laut, perampok dan orang Yahudi (26). Bukan hanya itu. Paulus juga harus menderita kelelahan fisik karena kerja berat, sering tidak tidur, kurang akomodasi, sering kelaparan, tanpa pakaian, kedinginan, bahkan harus berpuasa (27). Paulus juga harus mengalami dikejar-kejar, ditangkap dan dipenjara demi Injil (23, 32, 33). Di luar itu, ada juga penderitaan rohani yang harus ia tanggung karena tersandungnya orang yang pernah ia layani (29). Akan tetapi, semua itu bukanlah sebuah kebanggaan. Paulus menganggap semua itu sebagai kelemahan yang membuat dirinya semakin meneladani penderitaan Kristus. Paulus memaknai semua itu sebagai kelemahan yang membuat dirinya semakin dikuatkan dalam Kristus (30).


Hendaknya kita bermegah dalam pengorbanan, penderitaan demi pelayanan Injil dan karena mengikuti teladan Kristus.